Hib atau Haemophilus influenzae type b, merupakan suatu inveksi penyakit yang disebabkan sejenis bakteria yang dapat menimbulkan penyakit yang bisa berakibat fatal, seperti: Radang selaput otak (Meningitis), jangkitan pada selaput otak dan saraf tunjang Radang paru- paru (Pneumonia), jangkitan pada paru- paru Radang epiglotis (kerongkong), jangkitan pada epiglottis Keracunan darah (septicaemia), jangkitan darah Radang sendi, jangkitan pada sendi. Penyakit Hib, jangkitan HIV dan Hepatitits B bukanlah satu penyakit yang sama. Vaksin pencegah Hepatitis B adalah vaksin Hepatitis B.
Mengapa penyakit Hib berbahaya?
Mudah berjangkit terutama anak-anak. Mudah merebak Biasanya menyebabkan penyakit yang fatal dan dapat mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani. Jangkitan Hib pada selaput otak bisa mengakibatkan kecatatan otak yang permanen.
Siapa yang bisa terjangkit penyakit Hib?
Penyakit Hib seringkali menjangkiti kalangan anak-anak dibawah umur 5 tahun. Resiko paling tinggi dapat terjadi dikalangan anak-anak berumur kurang dari 1 tahun. Bila disekitarnya ada yang mengidap/terjangkiti virus Hib, hal tersebut dapat meningkatkan resiko tertular Hib. Bayi yang memperoleh ASI, mendapat perlindungan lebih dari resiko terjangkit penyakit Hib, akan tetapi imunisasi masih tetap diperlukan untuk perlindungan maksimal.
Bagaimana penyakit Hib menular?
Penyakit Hib bisa ditularkan oleh manusia lewat batuk atau bersin. Selain itu juga melalui kuman/kotoran yang terdapat pada mainan yang dimasukkan kedalam mulut. Biasanya bayi diantara umur 3-9 bulan, ketika masa tumbuh gigi akan senang memasukan barang-barang mainannya kedalam mulut, hal ini penting diperhatikan oleh para orangtua.
Bagaimana pencegahannya?
Penyakit Hib bisa dicegah melalui imunisasi Hib. Imunisasi Hib tidak dapat melindungi anak-anak yang menderita suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteria/ virus yang lain.
Kapan imunisasi Hib diberi?
Semua bayi berumur 2, 3 dan 5 bulan perlu diberi imunisasi Hib. Imunisasi Hib diberikan sebanyak 3 dosis.
Bagaimana imunisasi Hib diberikan?
Imunisasi Hib diberikan secara suntikan dibagian otot paha. Imunisasi ini dapat diberikan bersama imunisasi Difteria, Pertussis dan Tetanus (DPT). Juga boleh diberikan bersama imunisasi lain seperti imunisasi Hepatitis B.
Apakah efek samping imunisasi Hib?
Imunisasi Hib adalah aman, efek samping yang berlaku biasanya ringan dan tidak berbahaya dibanding jika anak Anda terkena penyakit Hib atau komplikasinya. Walau bagaimanapun, sakit, bengkak dan kemerahan bisa saja terjadi di tempat dimana anak Anda disuntik. Hal ini biasanya terjadi 1 hingga 3 hari selepas imunisasi. Kadangkala, anak juga mengalami demam untuk masa yang singkat selepas imunisasi.
Jika reaksi-reaksi ringan ini terjadi, efek samping dapat dikurangi dengan:
• Beri anak anda minum lebih banyak.
• Tidak memakaikan anak anda pakaian yang berlebihan.
• Taruh kain basah yang dingin diatas tempat suntikan yang sakit.
• Beri anak anda paracetamol untuk menurunkan demam (perhatikan dosis yang direkomendasi sesuai dengan umur anak anda).
Jika reaksi-reaksi menjadi parah atau berlangsung lama, atau jika anda khawatir tentang anak anda, hubungi dokter anda atau rumah sakit.
Minggu, 22 Agustus 2010
Imunisasi Bacilus Calmette-Guerin (BCG)
Kapan dan Jumlah Pemberian.
Pemberian imunisasi sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Pemberian cukup 1 kali saja, karena vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.
Kelompok umur yang rentan terserang TB adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1 tahun. Hal ini disebabkan anak umumnya punya hubungan erat dengan penderita TB dewasa, seperti dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain yang serumah. Karena itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak berusia kurang dari 1 tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh anak sudah cukup matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada anggota keluarga yang tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung ke rumah menderita TB, maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG setelah lahir.
Bila umur bayi sudah terlewat dari 2 bulan, sebelum dilakukan vaksinasi hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin). Gunanya untuk mengetahui, apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux negatif.
Lokasi Penyuntikan
Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Para orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka parut yang bakal timbul di lengan, karena umumnya luka parut tersebut tidaklah besar. Jadi tidak akan merusak estetika keindahan lengan anak Anda kelak.
Berikan Vaksin Saat Anak Sehat
Tak perlu ragu melakukan vaksinasi bila anak hanya sekadar batuk pilek. Vaksinasi sebaiknya ditunda dulu apabila anak demam tinggi atau sedang menderita penyakit yang berat (misalnya sampai perlu perawatan di rumah sakit). Alangkah baiknya bila melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada yang lebih ahli sebelum melakukan vaksinasi.
Tanda Keberhasilan Vaksinasi
Tanda keberhasilan vaksinasi BCG berupa bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas suntikan yang muncul setelah 4-6 minggu. Benjolan atau bisul setelah vaksinasi BCG memiliki ciri yang sangat khas dan berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri, bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak hanya itu, munculnya bisul juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul tersebut akan mengempis dan membentuk luka parut.
Bila Ada Reaksi Berlebih
Tingkatkan kewaspadaan bila ternyata muncul reaksi berlebih pascavaksinasi BCG. Misal, benjolan atau bisul itu lama tidak sembuh-sembuh dan menjadi koreng. Atau, malah ada pembengkakan pada kelenjar di ketiak (sekelan). Ini dapat merupakan pertanda si anak pernah terinfeksi TB sehingga menimbulkan reaksi berlebih setelah divaksin. Sebaiknya segera periksakan kembali ke dokter.
Penting diketahui, setiap infeksi selalu diikuti oleh pembesaran kelenjar limfe setempat (regional) sehingga bisa diraba. Jadi infeksi ringan akibat vaksinasi di lengan atas akan menyebabkan pembesaran kelenjar limfe ketiak. Jika infeksi terjadi pada pangkal paha, akan terjadi pembesaran kelenjar limfe di lipatan paha. Namun efek samping ini tidak terjadi pada semua bayi. Yang berisiko apabila bayi tersebut sudah terinfeksi TB sebelum vaksinasi.
Bila Tak Timbul Benjolan
Orangtua tak perlu khawatir bila ternyata tidak muncul bisul/benjolan di daerah suntik. Jangan langsung beranggapan bahwa vaksinasinya gagal. Bisa saja itu terjadi karena kadar antibodinya terlalu rendah, dosis terlalu rendah, daya tahan anak sedang menurun (misalnya anak dengan gizi buruk) atau kualitas vaksinnya kurang baik akibat cara penyimpanan yang salah.
Meski begitu, antibodi tetap terbentuk tetapi dalam kadar yang rendah. Jangan khawatir, di daerah endemis TB (penyakit TB terus-menerus ada sepanjang tahun) seperti Indonesia, infeksi alamiah akan selalu ada. Booster-nya (ulangan vaksinasi) bisa didapat dari alam, asalkan anak pernah divaksinasi sebelumnya.
Pemberian imunisasi sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Pemberian cukup 1 kali saja, karena vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang sama dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.
Kelompok umur yang rentan terserang TB adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1 tahun. Hal ini disebabkan anak umumnya punya hubungan erat dengan penderita TB dewasa, seperti dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain yang serumah. Karena itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak berusia kurang dari 1 tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh anak sudah cukup matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada anggota keluarga yang tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung ke rumah menderita TB, maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG setelah lahir.
Bila umur bayi sudah terlewat dari 2 bulan, sebelum dilakukan vaksinasi hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin). Gunanya untuk mengetahui, apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux negatif.
Lokasi Penyuntikan
Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan kanan atas. Cara menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal. Para orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka parut yang bakal timbul di lengan, karena umumnya luka parut tersebut tidaklah besar. Jadi tidak akan merusak estetika keindahan lengan anak Anda kelak.
Berikan Vaksin Saat Anak Sehat
Tak perlu ragu melakukan vaksinasi bila anak hanya sekadar batuk pilek. Vaksinasi sebaiknya ditunda dulu apabila anak demam tinggi atau sedang menderita penyakit yang berat (misalnya sampai perlu perawatan di rumah sakit). Alangkah baiknya bila melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada yang lebih ahli sebelum melakukan vaksinasi.
Tanda Keberhasilan Vaksinasi
Tanda keberhasilan vaksinasi BCG berupa bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas suntikan yang muncul setelah 4-6 minggu. Benjolan atau bisul setelah vaksinasi BCG memiliki ciri yang sangat khas dan berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri, bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak hanya itu, munculnya bisul juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul tersebut akan mengempis dan membentuk luka parut.
Bila Ada Reaksi Berlebih
Tingkatkan kewaspadaan bila ternyata muncul reaksi berlebih pascavaksinasi BCG. Misal, benjolan atau bisul itu lama tidak sembuh-sembuh dan menjadi koreng. Atau, malah ada pembengkakan pada kelenjar di ketiak (sekelan). Ini dapat merupakan pertanda si anak pernah terinfeksi TB sehingga menimbulkan reaksi berlebih setelah divaksin. Sebaiknya segera periksakan kembali ke dokter.
Penting diketahui, setiap infeksi selalu diikuti oleh pembesaran kelenjar limfe setempat (regional) sehingga bisa diraba. Jadi infeksi ringan akibat vaksinasi di lengan atas akan menyebabkan pembesaran kelenjar limfe ketiak. Jika infeksi terjadi pada pangkal paha, akan terjadi pembesaran kelenjar limfe di lipatan paha. Namun efek samping ini tidak terjadi pada semua bayi. Yang berisiko apabila bayi tersebut sudah terinfeksi TB sebelum vaksinasi.
Bila Tak Timbul Benjolan
Orangtua tak perlu khawatir bila ternyata tidak muncul bisul/benjolan di daerah suntik. Jangan langsung beranggapan bahwa vaksinasinya gagal. Bisa saja itu terjadi karena kadar antibodinya terlalu rendah, dosis terlalu rendah, daya tahan anak sedang menurun (misalnya anak dengan gizi buruk) atau kualitas vaksinnya kurang baik akibat cara penyimpanan yang salah.
Meski begitu, antibodi tetap terbentuk tetapi dalam kadar yang rendah. Jangan khawatir, di daerah endemis TB (penyakit TB terus-menerus ada sepanjang tahun) seperti Indonesia, infeksi alamiah akan selalu ada. Booster-nya (ulangan vaksinasi) bisa didapat dari alam, asalkan anak pernah divaksinasi sebelumnya.
Efek Samping Yang Ditimbulkan Setelah Imunisasi
Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yan membuktikan bahwa vaksin betuk-betul bekerja secara tepat. Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut:
BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2 – 3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah ± 10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.
DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala tersebut tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.
POLIO: Jarang timbuk efek samping.
CAMPAK: Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4 – 10 hari sesudah penyuntikan.
HEPATITIS: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian Imunisasi Hepatitis?
Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.
TETANUS TOXOID: Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada. Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan dari pada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.
Untuk apakah Imunisasi ini?
Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan Imunisasi Imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.
BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2 – 3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah ± 10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.
DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, merah atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri. Bila gejala tersebut tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.
POLIO: Jarang timbuk efek samping.
CAMPAK: Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4 – 10 hari sesudah penyuntikan.
HEPATITIS: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian Imunisasi Hepatitis?
Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.
TETANUS TOXOID: Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada. Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan dari pada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.
Untuk apakah Imunisasi ini?
Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan Imunisasi Imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.
Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT)
Apakah arti DPT ?
Difteri : Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pertusis : Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking. Penularan umumnya terjadi melalui udara (batuk/bersin).
Tetanus : Merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot.
Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang.
Selain kebersihan dan kesterilan waktu melahirkan, infeksi tetanus juga terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite.
Dapatkah imunisasi DPT diberikan sekaligus dengan imunisasi yang lain?
DPT dapat diberikan bahkan dapat pula diberikan bersama dengan imunisasi Poliomielitis (penyakit lumpuh), imunisasi Hepatitis virus B (HVB) atau imunisasi Hemophillus influenza B (HiB). Efek samping suntikan DPT dan pemberian Polio melalui mulut tidak berbahaya. Bayi dan anak mungkin akan pegal-pegal, sedikit demam dan rewel selama 1-2 hari, dan dapat diberikan obat penurun panas.
DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.
Difteri : Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pertusis : Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking. Penularan umumnya terjadi melalui udara (batuk/bersin).
Tetanus : Merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot.
Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang.
Selain kebersihan dan kesterilan waktu melahirkan, infeksi tetanus juga terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite.
Dapatkah imunisasi DPT diberikan sekaligus dengan imunisasi yang lain?
DPT dapat diberikan bahkan dapat pula diberikan bersama dengan imunisasi Poliomielitis (penyakit lumpuh), imunisasi Hepatitis virus B (HVB) atau imunisasi Hemophillus influenza B (HiB). Efek samping suntikan DPT dan pemberian Polio melalui mulut tidak berbahaya. Bayi dan anak mungkin akan pegal-pegal, sedikit demam dan rewel selama 1-2 hari, dan dapat diberikan obat penurun panas.
DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Imunisasi Polio
Penyakit Polio ini disebabkan oleh virus polio yang termasuk kelompok enterovirus, famili picornaviridae. Saat ini dikenal ada 3 subtipe yaitu P1, P2 & P3. Virus ini tidak aktif bila kena panas, formaldehid, chlorine & sinar UV.
Penyakit ini menyebar dari orang satu ke orang lain melalui jalur oral-fecal, virus sangat menular pada kontak dalam rumah tangga jika anggota keluarga tersebut tidak mendapatkan imunisasi.
Penderita polio akan tetap jadi sumber penularan antara 7-10 hari sebelum dan sesudah timbul gejala, namun virus masih dapat ditemukan pada feses sampai 3 hingga 6 minggu. Kerusakan yang ditimbulkan dari virus ini biasanya terjadi pada sumsum tulang dan batang otak yang berakibat kelumpuhan. Implikasi yang ditumbulkan oleh virus polio adalah lumpuh layuh, maksudnya lumpuh dan lemah.
Karena sudah menimbulkan wabah di seluruh dunia maka pada pada tahun 1988 dilakukan eradikasi polio (ERAPO) secara global. Dimana pemberantasan polio diambil dengan sistem program imunisasi rutin. Berkaitan dengan hal tersebut, ada juga Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
Dimana tujuan PIN adalah untuk memberikan vaksin polio secara serentak dalam waktu bersamaan sehingga virus polio liar tidak punya kesempatan berkembang dalam tubuh, lalu mati setelah keluar dari tinja.
Imunisasi polio ada dua macam, yang pertama oral polio vaccine atau vaksin tetes mulut. Sedangkan yang kedua inactivated polio vaccine, ini yang disuntikkan.
Oral polio vaccine atau vaksin tetes mulut polio relatif mudah diberikan, murah, dan mendekati rute penyakit aslinya. Sementara proses vaksinasi melalui penyuntikan memiliki efek proteksi lebih baik namun mahal dan tidak punya efek epidemiologis.
Terdapat beberapa efek samping dari pemberian imunisasi polio, namuin efek samping yang terjadi dibawah takaran prosentase 0,5-1% masih termasuk kecil.[](DA)
Penyakit ini menyebar dari orang satu ke orang lain melalui jalur oral-fecal, virus sangat menular pada kontak dalam rumah tangga jika anggota keluarga tersebut tidak mendapatkan imunisasi.
Penderita polio akan tetap jadi sumber penularan antara 7-10 hari sebelum dan sesudah timbul gejala, namun virus masih dapat ditemukan pada feses sampai 3 hingga 6 minggu. Kerusakan yang ditimbulkan dari virus ini biasanya terjadi pada sumsum tulang dan batang otak yang berakibat kelumpuhan. Implikasi yang ditumbulkan oleh virus polio adalah lumpuh layuh, maksudnya lumpuh dan lemah.
Karena sudah menimbulkan wabah di seluruh dunia maka pada pada tahun 1988 dilakukan eradikasi polio (ERAPO) secara global. Dimana pemberantasan polio diambil dengan sistem program imunisasi rutin. Berkaitan dengan hal tersebut, ada juga Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
Dimana tujuan PIN adalah untuk memberikan vaksin polio secara serentak dalam waktu bersamaan sehingga virus polio liar tidak punya kesempatan berkembang dalam tubuh, lalu mati setelah keluar dari tinja.
Imunisasi polio ada dua macam, yang pertama oral polio vaccine atau vaksin tetes mulut. Sedangkan yang kedua inactivated polio vaccine, ini yang disuntikkan.
Oral polio vaccine atau vaksin tetes mulut polio relatif mudah diberikan, murah, dan mendekati rute penyakit aslinya. Sementara proses vaksinasi melalui penyuntikan memiliki efek proteksi lebih baik namun mahal dan tidak punya efek epidemiologis.
Terdapat beberapa efek samping dari pemberian imunisasi polio, namuin efek samping yang terjadi dibawah takaran prosentase 0,5-1% masih termasuk kecil.[](DA)
Kamis, 12 Agustus 2010
Tips ketika makan sahur dan berbuka puasa
Hari ini memasuki hari ketiga puasa, semoga puasanya lancar semua sampai akkhir Ramadhan nanti. Hari pertama puasa kemarin, kakak (anakku) alhamdulillah bisa tamat sampai waktu berbuka. Walau pagi hari ketika dibangunkan untuk makan sahur malas-malasan, tapi setelah dibujuk akhirnya mau juga ikut makan sahur. Nah ketika siang, sudah pesan nanti mau makan ini, makan itu. Maklumlah...masih
Minggu, 08 Agustus 2010
Tips Agar Aman Membawa Bayi di Pesawat
Sekembalinya dari mudik ke tanah air, belum ada ide nulis artikel. Kali ini saya mau share pengalaman membawa bayi di pesawat. Walaupun Salma sudah berumur 3 tahun, tapi artikel ini ditujukan untuk balita. Hanya beda sedikit, misalnya tentang diapers dan kursi duduk (seat). Yang lainnya sama saja, bisa diterapkan untuk bayi dan anak-anak.
Sebelum Anda melakukan perjalanan dengan pesawat, jika
Langganan:
Postingan (Atom)